Rekonstruksi Epistemologi Wahyu

Inzāl–Tanzīl Perspektif Muhammad Syahrur dalam Surat al-Furqān Ayat 32

Authors

  • Moh. Ikhya Ulumuddin Al Hikam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Surabaya, Indonesia
  • Fadhil Achmad Agus Bahari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Surabaya, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.59001/pjrs.v5i1.726

Keywords:

epistemologi wahyu, hermeneutika Al-Qur’an, Inzāl–Tanzīl, Muhammad Syahrur, proses pewahyuan

Abstract

The epistemology of revelation remains a central yet methodologically contested issue in contemporary Qur’anic studies. Although the concepts of inzāl and tanzīl are widely discussed in classical scholarship, they are often treated interchangeably, thereby obscuring the dynamics of the revelatory process, the formation of religious knowledge, and the historical articulation of divine discourse. This study reconstructs the epistemology of revelation by critically re-examining Muhammad Syahrur’s distinction between inzāl and tanzīl, with al-Furqān (25:32) serving as an analytical locus that exemplifies gradual revelation. Employing conceptual, semantic, and contextual textual analysis, the article evaluates the internal coherence of Syahrur’s argument and the methodological implications of differentiating the two concepts. The findings demonstrate that Syahrur’s framework reconceptualizes revelation as a layered epistemic process, transitioning from a transcendent realm to a historical-linguistic domain. This reconstructed model carries significant implications for Qur’anic hermeneutics, particularly in distinguishing universal textual principles from context-bound applications, thereby enabling more responsive interpretive approaches in contemporary contexts. The study concludes that an epistemology of revelation grounded in the inzāl–tanzīl distinction offers both a clearer account of the revelatory process and a constructive foundation for advancing modern Qur’anic interpretation.

Epistemologi wahyu merupakan isu sentral yang hingga kini masih diperdebatkan secara metodologis dalam studi Al-Qur’an kontemporer. Meskipun konsep inzāl dan tanzīl banyak dibahas dalam khazanah keilmuan klasik, keduanya sering diperlakukan secara interchangeable, sehingga mengaburkan dinamika proses pewahyuan, pembentukan pengetahuan keagamaan, dan artikulasi historis diskursus ilahi. Artikel ini merekonstruksi epistemologi wahyu melalui peninjauan kritis terhadap distingsi inzāl dan tanzīl dalam pemikiran Muhammad Syahrur, dengan Surat al-Furqān (25:32) sebagai locus analitis yang merepresentasikan konsep pewahyuan gradual. Dengan menggunakan analisis tekstual konseptual, semantik, dan kontekstual, artikel ini mengevaluasi koherensi internal argumentasi Syahrur serta implikasi metodologis dari pembedaan kedua konsep tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kerangka pemikiran Syahrur merekonseptualisasikan wahyu sebagai proses epistemik berlapis yang bergerak dari ranah transenden menuju ranah historis-linguistik. Model rekonstruksi ini memiliki implikasi signifikan bagi hermeneutika Al-Qur’an, khususnya dalam membedakan prinsip-prinsip tekstual yang bersifat universal dari penerapan yang terikat konteks, sehingga memungkinkan pendekatan penafsiran yang lebih responsif terhadap konteks kontemporer. Artikel ini menyimpulkan bahwa epistemologi wahyu yang bertumpu pada distingsi inzāl–tanzīl tidak hanya memberikan penjelasan yang lebih jernih mengenai proses pewahyuan, tetapi juga menawarkan fondasi konstruktif bagi pengembangan penafsiran Al-Qur’an di era modern.

References

Asmara, M., Kurniawan, R., & Agustian, L. (2020). Teori batas kewarisan Muhammad Syahrur dan relevansinya dengan keadilan sosial. De Jure: Jurnal Hukum dan Syar’iah, 12(1), 17–34. https://doi.org/10.18860/j-fsh.v12i1.7580

Asriaty. (2014). Menyoal pemikiran hukum Islam Muhammad Shahrur. Istinbath: Jurnal Hukum Islam, 13(2).

Christmann, A. (2009). The Qur’an, morality and critical reason: The essential Muhammad Shahrur (Vol. 106). Leiden, The Netherlands: Brill.

Creswell, J. W. (2013). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Darwazah, M. ‘I. (1971). Al-tafsīr al-ḥadīth (Vol. 3). Cairo, Egypt: Dār Iḥyā’ al-Kutub al-‘Arabiyyah.

Digdayani, T. A. (2023). Catcalling in Qur’anic perspective on limits theory of Muhammad Shahrur. Hermeneutik, 17(2), 361–372. https://doi.org/10.21043/hermeneutik.v17i2.23307

Hishām, ‘A. A.-M. ibn. (1990). Al-sīrah al-nabawiyyah li Ibn Hishām (Vol. 1). Beirut, Lebanon: Dār al-Jīl.

Irfansyah, & Khairunnisa. (2023). Hermeneutika hudud menurut Muhammad Syahrur: Telaah tentang relevansi pemakaian jilbab dengan perkembangan zaman. TAFSE: Journal of Qur’anic Studies, 8(1), 34–52. https://doi.org/10.22373/tafse.v8i1.17144

Isḥāq, M. I. (2004). As-sīrah an-nabawiyyah. Beirut, Lebanon: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Izutsu, T. (2002). God and man in the Qur’an: Semantics of the Qur’anic weltanschauung. Kuala Lumpur, Malaysia: Islamic Book Trust.

Juliansyahzen, M. I. (2022). Rekonstruksi nalar hukum Islam kontemporer. [Nama jurnal tidak tersedia], 4, 57–74.

Lory, P. (2022). Review of The Qur’an, morality and critical reason: The essential Muhammad Shahrur by Andreas Christmann. [Nama jurnal tidak tersedia].

Shah, M. A. A. (2000). Islam garda depan: Mosaik pemikiran Islam Timur Tengah. Bandung, Indonesia: Mizan.

Mukhtar, M., Mardia, M., & Aminuddin, A. (2023). Study of the thinking of Muhammad Syahrur and M. Quraish Shihab about the concept of polygamy. Lisan al-Hal: Jurnal Pengembangan Pemikiran dan Kebudayaan, 17(1), 22–32. https://doi.org/10.35316/lisanalhal.v17i1.22-32

Novita, I., Halimatussa’diyah, & Apriyanti. (2025). A study of asynonymy: Muhammad Shahrur’s alternative interpretation of QS. al-Nūr (24): 3. Ilmu Ushuluddin, 11(2), 227–248. https://doi.org/10.15408/iu.v11i2.45804

Nurul Fithriyah Awaliatul Laili, & Aziz, A. N. (2023). Pandangan Muhammad Shahrur mengenai konsep pakaian perempuan Muslim. Jurnal Studi Islam dan Kemuhammadiyahan (JASIKA), 3(2), 116–131. https://doi.org/10.18196/jasika.v3i2.60

Rohmansyah. (2023). The epistemology of Muhammad Syahrur’s Islamic thought and its implications for the study of polygamy hadith. Kalam, 17(2), 125–146. https://doi.org/10.24042/002023171590800

Aminah, S. (2013). Teori hudud dan penerapannya terhadap ayat-ayat gender. [Nama jurnal tidak tersedia], 3(2).

Sjadzali, M., Piliang, M. I., & Tsauri, M. N. (2019). Penafsiran modern ayat-ayat waris: Perbandingan Muḥammad Shaḥrūr dan Munawir Sjadzali. [Nama jurnal tidak tersedia], 18, 78–116.

Syahrur, M. (1990). Al-kitāb wa al-Qur’ān: Qirā’ah mu‘āṣirah. Damascus, Syria: Al-Ahālī li al-Ṭibā‘ah wa al-Nashr wa al-Tawzī‘.

Downloads

Published

20-01-2026

Issue

Section

Articles