Peradaban Journal of Religion and Society https://www.jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS <p><strong><span data-preserver-spaces="true">Peradaban Journal of Religion and Society (PJRS)</span></strong><span data-preserver-spaces="true"> is a peer-reviewed electronic journal published by Pustaka Peradaban in collaboration with Pojok Peradaban Institute for the Study of Religion and Society. <strong>PJRS </strong></span><span data-preserver-spaces="true">provides a forum for all disciplines related to the study of religion and social fields. </span><strong><span data-preserver-spaces="true">PJRS</span></strong><span data-preserver-spaces="true"> is Published twice a year, in </span><strong><span data-preserver-spaces="true">July</span></strong><span data-preserver-spaces="true"> and </span><strong><span data-preserver-spaces="true">January</span></strong><span data-preserver-spaces="true">.</span></p> Pustaka Peradaban en-US Peradaban Journal of Religion and Society 2962-7958 Sakralitas, Komoditas, dan Konflik: Perdagangan Cendana dan Penyebaran Agama-Agama di Nusa Tenggara Timur https://www.jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/771 <p><em>This study examines the intersection of sacredness, commodity value, and conflict in the sandalwood trade and its influence on the spread of Islam, Catholicism, and Protestantism in East Nusa Tenggara (NTT). Historically regarded as a sacred material in local traditions and global religious practices, sandalwood became a highly valued commodity in Asian and European trade networks from the tenth to the seventeenth century. The fusion of ritual significance and economic value generated contestation among local elites, Muslim traders, and colonial powers such as the Portuguese and the Dutch, each seeking control over this strategic resource. Previous studies largely emphasize political-economic aspects, while research on the role of sandalwood in shaping religious dynamics remains limited. Using a qualitative-historical approach and Johan Galtung’s theoretical framework, this study analyzes forms of structural and cultural violence, as well as the competing interests embedded in the sandalwood trade. The findings indicate that sandalwood facilitated the entry and growth of Islam through commercial interactions, while the spread of Catholicism and Protestantism was strengthened by colonial political agendas. This study argues that the commodification of sandalwood not only structured economic and political relations but also significantly influenced patterns of social interaction and religious transformation in NTT.</em></p> <p>Penelitian ini mengkaji hubungan antara sakralitas, komoditas, dan konflik dalam perdagangan cendana serta pengaruhnya terhadap penyebaran Islam, Katolik, dan Protestan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Cendana, yang secara historis memiliki nilai ritual dalam tradisi lokal dan agama-agama dunia, sejak abad ke-10 hingga ke-17 berkembang menjadi komoditas yang sangat bernilai dalam jaringan perdagangan Asia dan Eropa. Perpaduan nilai sakral dan ekonomi ini memicu kontestasi antara elit lokal, pedagang Muslim, serta kekuatan kolonial Portugis dan Belanda yang berupaya menguasai sumber daya strategis tersebut. Penelitian terdahulu umumnya berfokus pada aspek ekonomi-politik, sedangkan kajian mengenai peran cendana dalam dinamika keagamaan masih terbatas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-historis dan kerangka teori Johan Galtung, penelitian ini menganalisis bentuk kekerasan struktural dan kultural serta kontradiksi kepentingan yang muncul dari penguasaan cendana. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perdagangan cendana menjadi medium penting dalam masuk dan berkembangnya Islam melalui hubungan dagang, sementara penyebaran Katolik dan Protestan diperkuat oleh dukungan politik kolonial. Studi ini menegaskan bahwa komodifikasi cendana tidak hanya membentuk struktur ekonomi-politik, tetapi juga memengaruhi pola interaksi dan transformasi keagamaan di NTT.</p> Maulidia Dhuryati Piala Bora Najamudin M . Lobang Copyright (c) 2026 Maulidia Dhuryati Piala Bora , Najamudin M . Lobang 2026-01-19 2026-01-19 5 1 1 15 10.59001/pjrs.v5i1.771 Kerangka Teologis Islamic Social Finance untuk Mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) https://www.jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/739 <p><em>This study aims to formulate a theological-functional framework of Islamic Social Finance (ISF) in supporting the Sustainable Development Goals (SDGs) through a Tafsir Maudu’i (thematic exegesis) approach to Surah At-Taubah: 60 and Surah Al-Baqarah: 267. This qualitative research identifies and synthesizes the normative principles of the Qur'an to bridge the gap between the potential of Islamic philanthropic resources and the financing needs of sustainable development. The key findings indicate that two normative pillars of the Qur'an provide an explicit mandate for this integration. The Distribution Structure Pilla<strong data-path-to-node="2" data-index-in-node="595">r</strong> (QS. At-Taubah: 60) transforms Zakat into a productive empowerment instrument that directly supports SDG 1 (No Poverty) and SDG 4 (Quality Education). The Financing Quality Pillar (QS. Al-Baqarah: 267) provides ethical and managerial justification for long-term investment through Waqf and Infaq, directed toward sustainable infrastructure funding, transparent governance, and environmental issues (SDGs 3, 7, 13, 16). Philosophically, this integration demonstrates the alignment of Maqasid Syariah with universal development goals. The study concludes that ISF has significant potential to be a stable, directed, and ethical driving force in achieving the 2030 Sustainable Development Agenda. The institutional transformation of ISF, through the adoption of dual performance indicators (Sharia metrics and SDG impact metrics), is key to ensuring that ZISWAF funds generate measurable social and environmental impacts.</em></p> <p>Penelitian ini bertujuan merumuskan kerangka teologis-fungsional Islamic Social Finance (ISF) dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pendekatan Tafsir Maudu’i terhadap QS. At-Taubah: 60 dan QS. Al-Baqarah: 267. Penelitian kualitatif ini mengidentifikasi dan mensintesis prinsip-prinsip normatif Al-Qur’an untuk mengatasi kesenjangan antara potensi sumber daya filantropi Islam dan kebutuhan pendanaan pembangunan berkelanjutan. Temuan kunci menunjukkan bahwa dua pilar normatif Al-Qur’an menyediakan mandat eksplisit untuk integrasi ini. Pilar Struktur Distribusi (QS. At-Taubah: 60) mentransformasi Zakat menjadi instrumen pemberdayaan produktif yang secara langsung mendukung target SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 4 (Pendidikan). Pilar Kualitas Pendanaan (QS. Al-Baqarah: 267) memberikan justifikasi etis dan manajerial bagi investasi jangka panjang melalui Wakaf dan Infak, yang diarahkan untuk pendanaan infrastruktur berkelanjutan, tata kelola transparan, dan isu lingkungan (SDG 3, 7, 13, 16). Secara filosofis, integrasi ini menunjukkan keselarasan Maqasid Syariah dengan tujuan pembangunan universal. Penelitian menyimpulkan bahwa ISF memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan pendorong yang stabil dan etis dalam mencapai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Transformasi kelembagaan ISF, melalui adopsi indikator kinerja ganda (Syariah dan metrik dampak SDGs), adalah kunci untuk memastikan dana ZISWAF menghasilkan dampak sosial dan lingkungan yang terukur.</p> Muhammad Zainudin Muhammad Ibnu Akbar Nuryadi Ahmad Djalaluddin Copyright (c) 2026 Muhammad Zainudin, Muhammad Ibnu Akbar Nuryadi, Ahmad Djalaluddin 2026-01-19 2026-01-19 5 1 16 35 10.59001/pjrs.v5i1.739 Dehumanisasi dan Krisis Spiritualitas di Media Sosial https://www.jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/716 <p style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"> </p> <p><em>This study examines Surah al-Ḥujurāt verse 11 through an analysis of Quraish Shihab’s interpretation in Tafsir al-Mishbah to critically understand the phenomena of dehumanization and the crisis of spirituality in social media. In contrast to previous studies that tend to focus on normative social ethics or thematic analyses without deeply engaging with digital communication practices, this research offers a conceptual enrichment through a hermeneutical approach that connects the textual horizon, the interpretive process, and contemporary digital realities. Employing a qualitative library-based method, the study analyzes the structure of exegetical argumentation and its ethical-spiritual implications for online interaction. The findings indicate that the verse provides a value framework that functions transformatively in shaping social relations, particularly within digital spaces prone to bullying, hate speech, labeling, and polarization. Quraish Shihab’s interpretation emphasizes the importance of self-discipline, moral sensitivity, and public responsibility as guiding principles of communication. The hermeneutical refinement in this study demonstrates an operational linkage between Qur’anic messages and digital phenomena, ensuring that ethical prohibitions do not remain merely normative but serve as critical guidelines for fostering a more humane culture of interaction. The primary contribution of this study lies in formulating a framework of “Qur’anic digital ethics,” which expands the discourse on Islamic digital literacy while offering a conceptual basis for addressing dehumanization and the crisis of spirituality in the era of social media.</em></p> <p>Studi ini mengkaji Surah al-Ḥujurāt ayat 11 melalui pembacaan atas penafsiran Quraish Shihab dalam <em>Tafsir al-Mishbah</em> untuk memahami secara kritis gejala dehumanisasi dan krisis spiritualitas di media sosial. Dibandingkan penelitian sebelumnya yang lebih berhenti pada uraian etika sosial atau analisis tematik tanpa menghubungkannya secara mendalam dengan praktik komunikasi digital, penelitian ini menawarkan pengayaan konseptual melalui pendekatan hermeneutik yang menautkan horizon teks, proses penafsiran, dan realitas digital kontemporer. Metode yang digunakan adalah kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis terhadap bangunan argumentasi tafsir serta implikasi etik-spiritualnya bagi interaksi daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat tersebut menghadirkan kerangka nilai yang bekerja secara transformatif dalam menata relasi sosial, terutama pada ruang digital yang rentan terhadap praktik perundungan, ujaran kebencian, pelabelan, dan polarisasi. Penafsiran Quraish Shihab menegaskan pentingnya disiplin diri, kepekaan moral, dan tanggung jawab publik sebagai orientasi komunikasi. Penajaman hermeneutik dalam penelitian ini memperlihatkan keterkaitan operasional antara pesan Qur’ani dan fenomena digital, sehingga larangan etis tidak berhenti pada level normatif, tetapi berfungsi sebagai pedoman kritis untuk membangun budaya interaksi yang lebih manusiawi. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada perumusan kerangka “akhlak digital Qur’ani” yang dapat memperluas diskursus literasi digital keislaman sekaligus menawarkan basis konseptual untuk merespons dehumanisasi dan krisis spiritualitas pada era media sosial.</p> M. Rizkhan Arsyi M. Rama Haqiqi M. Mubinullah Nurusshobah Nurusshobah Copyright (c) 2026 M. Rizkhan Arsyi, M. Rama Haqiqi, M. Mubinullah, Nurusshobah Nurusshobah 2026-01-19 2026-01-19 5 1 36 54 10.59001/pjrs.v5i1.716 Nilai-Nilai Ulil Albab sebagai Fondasi Generasi Emas https://www.jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/521 <p><em>This article examines the concept of Ulil Albab in the Qur’an and its relevance as a foundation for Islamic education in responding to the challenges of the contemporary digital era. Amid rapid technological disruption, the formation of human resources who possess not only intellectual competence but also spiritual depth and moral integrity has become increasingly urgent. Employing a descriptive qualitative approach based on library research, this study analyzes QS. Ali ‘Imran (3): 190–194 through the interpretive framework of Ibn Katsir’s Tafsir. The analysis focuses on identifying the core characteristics of Ulil Albab and their educational implications. The findings indicate that education grounded in the values of Ulil Albab is structured upon the integration of dhikr (remembrance of God), fikr (critical reflection), and amal ṣāliḥ (righteous action); the centrality of tawḥīd; a balanced development of spiritual, intellectual, and social dimensions; a commitment to knowledge and wisdom; and adherence to truth and noble character. The study further demonstrates that the implementation of these values in education requires character-based learning, an integrative curriculum, active pedagogical strategies, the role of teachers as murabbī, and collaboration across educational environments. This research contributes to Islamic educational discourse by offering a Qur’anic value-based framework for cultivating a holistic and ethically grounded generation capable of navigating the complexities of the digital age.</em></p> <p>Artikel ini mengkaji konsep Ulil Albab dalam Al-Qur’an serta relevansinya sebagai fondasi pendidikan Islam dalam merespons tantangan era digital kontemporer. Di tengah pesatnya disrupsi teknologi, pembentukan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan integritas moral menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi kepustakaan dengan menganalisis QS. Ali ‘Imran (3): 190–194 melalui kerangka penafsiran Ibn Katsir. Analisis difokuskan pada identifikasi karakteristik utama Ulil Albab dan implikasinya bagi pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berbasis nilai-nilai Ulil Albab dibangun atas integrasi <em>dzikr </em>(mengingat Allah), <em>fikr </em>(refleksi kritis), dan amal saleh; penguatan nilai <em>tauhid</em>; keseimbangan antara dimensi spiritual, intelektual, dan sosial; kecintaan terhadap ilmu dan hikmah; serta komitmen terhadap kebenaran dan akhlak mulia. Penelitian ini juga menegaskan bahwa implementasi nilai-nilai tersebut dalam pendidikan menuntut penguatan pendidikan karakter, pengembangan kurikulum integratif, penerapan metode pembelajaran aktif, peran pendidik sebagai murabbi, serta sinergi antarlingkungan pendidikan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan pendidikan Islam berbasis nilai Qur’ani guna membentuk generasi yang unggul secara holistik dan adaptif terhadap perubahan zaman.</p> Mellani Putri Rahayu Buwono Dzulkifli Hadi Imawan Copyright (c) 2026 Mellani Putri Rahayu Buwono, Dzulkifli Hadi Imawan 2026-01-19 2026-01-19 5 1 55 69 10.59001/pjrs.v5i1.521 Social Transformation in AI-Driven Digital Ta’aruf https://www.jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/695 <p>The development of digital technology, especially artificial intelligence, has triggered significant social changes, including in the mechanism of ta'aruf which can now be carried out online through special platforms. This article analyzes the Islamic family law response to the transformation of AI-based ta’aruf practices, focusing on the Muzz app as a representation of a modern introductory platform. This research uses a literature study method that examines the literature on Islamic family law, digital technology, and AI. The findings of the study indicate that the application of sharia values, especially <em>maqasid al-shari’ah</em>, is a crucial foundation in the development of safe and ethical digital ta’aruf practices, as well as being adaptable to various other digital ta’aruf platforms. In this context, <em>hifz al-‘ird</em> encourages strong identity verification to prevent data manipulation; <em>Hifz al-Din</em> demands good communication manners and seriousness of intention; while <em>Hifz al-Nafs</em> requires protection from the risk of cybercrime through adequate data security. AI technology can strengthen these mechanisms through AI-based identity verification, behavioral anomaly detection, and automated moderation. The implications of this study confirm the need for fiqh guidelines for online interaction, sharia standards for the <em>nadhar</em> mechanism and guardian involvement, application certification according to sharia principles, and pre-marital data protection regulations.</p> <p data-path-to-node="2"><em>Perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan (AI), telah memicu perubahan sosial yang signifikan, termasuk dalam mekanisme ta'aruf yang kini dapat dilakukan secara daring melalui platform khusus. Artikel ini menganalisis respons hukum keluarga Islam terhadap transformasi praktik ta'aruf berbasis AI, dengan fokus pada aplikasi Muzz sebagai representasi platform perkenalan modern. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka yang mengkaji literatur tentang hukum keluarga Islam, teknologi digital, dan AI. Temuan studi menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai syariah, khususnya maqasid al-shari’ah, merupakan fondasi krusial dalam pengembangan praktik ta'aruf digital yang aman dan etis, serta dapat diadaptasikan ke berbagai platform ta'aruf digital lainnya. Dalam konteks ini, hifz al-‘ird mendorong verifikasi identitas yang kuat untuk mencegah manipulasi data; hifz al-din menuntut tata krama komunikasi yang baik dan keseriusan niat; sementara hifz al-nafs memerlukan perlindungan dari risiko kejahatan siber melalui keamanan data yang memadai. Teknologi AI dapat memperkuat mekanisme ini melalui verifikasi identitas berbasis AI, deteksi anomali perilaku, dan moderasi otomatis. Implikasi dari studi ini mengonfirmasi perlunya pedoman fikih untuk interaksi daring, standar syariah untuk mekanisme nadhar dan keterlibatan wali, sertifikasi aplikasi sesuai prinsip syariah, serta regulasi perlindungan data pra-nikah.</em></p> Mufatihatuttaubah Rorom Ika Putri Copyright (c) 2026 Mufatihatuttaubah Rorom Ika Putri 2026-01-19 2026-01-19 5 1 70 83 10.59001/pjrs.v5i1.695 Recontextualization of Tafsīr al-Jalālayn in Javanese Pesantren https://www.jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/792 <p>This article examines the recontextualization of <em>Tafsīr al-Jalālayn</em> in Javanese pesantren through the pedagogical practice of <em data-start="1103" data-end="1113">ḥāshiyah</em> as a central component of the instructional curriculum. The study aims to demonstrate how <em data-start="1204" data-end="1217">al-Jalālayn</em>, rather than functioning solely as a classical exegetical text, is continuously reproduced and adapted through layered commentaries that respond to local educational contexts. Employing a qualitative research design with descriptive-analytical analysis and contextual hermeneutics, this study focuses on Pegon-script <em data-start="1535" data-end="1545">ḥāshiyah</em> used in Qur’anic exegesis instruction in Javanese pesantren. The findings reveal that <em data-start="1632" data-end="1652">tafsīr al-Jalālayn</em> remains a foundational text, transmitted through established pedagogical systems such as <em data-start="1742" data-end="1751">sorogan</em> and <em data-start="1756" data-end="1767">bandongan</em>. Classical <em data-start="1779" data-end="1789">ḥāshiyah</em> works, particularly <em data-start="1810" data-end="1828">Ḥāshiyah al-Ṣāwī</em>, function as authoritative intellectual models that shape the production of local Pegon <em data-start="1917" data-end="1927">ḥāshiyah</em>. This study argues that the enduring relevance of <em data-start="1978" data-end="1998">tafsīr al-Jalālayn</em> is inseparable from the pesantren educational milieu, where the tradition of <em data-start="2076" data-end="2086">ḥāshiyah</em> ensures its continuity, interpretive adaptability, and sustained pedagogical significance across generations.</p> <p>Artikel ini mengkaji rekontekstualisasi T<em data-start="238" data-end="258">afsīr al-Jalālayn</em> dalam tradisi pesantren Jawa melalui praktik pedagogis <em data-start="314" data-end="324">ḥāshiyah</em> sebagai bagian sentral dari kurikulum pembelajaran. Penelitian ini bertujuan menunjukkan bahwa <em data-start="420" data-end="433">al-Jalālayn</em> tidak semata diperlakukan sebagai karya tafsir klasik, tetapi terus direproduksi dan diadaptasi melalui lapisan-lapisan komentar yang responsif terhadap kebutuhan pendidikan lokal. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan analisis deskriptif-analitis dan pendekatan hermeneutika kontekstual, dengan fokus pada <em data-start="755" data-end="765">ḥāshiyah</em> beraksara Pegon yang digunakan dalam pembelajaran tafsir di pesantren-pesantren Jawa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa <em data-start="888" data-end="908">tafsīr al-Jalālayn</em> tetap menjadi teks fundamental yang ditransmisikan secara berkelanjutan melalui sistem pedagogis mapan, seperti <em data-start="1021" data-end="1030">sorogan</em> dan <em data-start="1035" data-end="1046">bandongan</em>. Karya-karya <em data-start="1060" data-end="1070">ḥāshiyah</em> klasik, khususnya <em data-start="1089" data-end="1107">Ḥāshiyah al-Ṣāwī</em>, berfungsi sebagai model intelektual otoritatif yang memengaruhi produksi <em data-start="1182" data-end="1192">ḥāshiyah</em> lokal beraksara Pegon. Artikel ini berargumen bahwa keberlanjutan relevansi <em data-start="1269" data-end="1289">tafsīr al-Jalālayn</em> tidak dapat dipisahkan dari konteks pendidikan pesantren, di mana tradisi <em data-start="1364" data-end="1374">ḥāshiyah</em> menjamin kontinuitas, adaptabilitas interpretatif, dan signifikansi pedagogisnya lintas generasi.</p> Aryza Sativa Puspasari Copyright (c) 2026 Aryza Sativa Puspasari 2026-01-21 2026-01-21 5 1 84 100 10.59001/pjrs.v5i1.792 Rekonstruksi Epistemologi Wahyu https://www.jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/726 <p data-start="1680" data-end="3211"><em>The epistemology of revelation remains a central yet methodologically contested issue in contemporary Qur’anic studies. Although the concepts of inzāl and tanzīl are widely discussed in classical scholarship, they are often treated interchangeably, thereby obscuring the dynamics of the revelatory process, the formation of religious knowledge, and the historical articulation of divine discourse. This study reconstructs the epistemology of revelation by critically re-examining Muhammad Syahrur’s distinction between inzāl and tanzīl, with al-Furqān (25:32) serving as an analytical locus that exemplifies gradual revelation. Employing conceptual, semantic, and contextual textual analysis, the article evaluates the internal coherence of Syahrur’s argument and the methodological implications of differentiating the two concepts. The findings demonstrate that Syahrur’s framework reconceptualizes revelation as a layered epistemic process, transitioning from a transcendent realm to a historical-linguistic domain. This reconstructed model carries significant implications for Qur’anic hermeneutics, particularly in distinguishing universal textual principles from context-bound applications, thereby enabling more responsive interpretive approaches in contemporary contexts. The study concludes that an epistemology of revelation grounded in the inzāl–tanzīl distinction offers both a clearer account of the revelatory process and a constructive foundation for advancing modern Qur’anic interpretation.</em></p> <p data-start="1680" data-end="3211">Epistemologi wahyu merupakan isu sentral yang hingga kini masih diperdebatkan secara metodologis dalam studi Al-Qur’an kontemporer. Meskipun konsep inzāl dan tanzīl banyak dibahas dalam khazanah keilmuan klasik, keduanya sering diperlakukan secara interchangeable, sehingga mengaburkan dinamika proses pewahyuan, pembentukan pengetahuan keagamaan, dan artikulasi historis diskursus ilahi. Artikel ini merekonstruksi epistemologi wahyu melalui peninjauan kritis terhadap distingsi inzāl dan tanzīl dalam pemikiran Muhammad Syahrur, dengan Surat al-Furqān (25:32) sebagai locus analitis yang merepresentasikan konsep pewahyuan gradual. Dengan menggunakan analisis tekstual konseptual, semantik, dan kontekstual, artikel ini mengevaluasi koherensi internal argumentasi Syahrur serta implikasi metodologis dari pembedaan kedua konsep tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kerangka pemikiran Syahrur merekonseptualisasikan wahyu sebagai proses epistemik berlapis yang bergerak dari ranah transenden menuju ranah historis-linguistik. Model rekonstruksi ini memiliki implikasi signifikan bagi hermeneutika Al-Qur’an, khususnya dalam membedakan prinsip-prinsip tekstual yang bersifat universal dari penerapan yang terikat konteks, sehingga memungkinkan pendekatan penafsiran yang lebih responsif terhadap konteks kontemporer. Artikel ini menyimpulkan bahwa epistemologi wahyu yang bertumpu pada distingsi inzāl–tanzīl tidak hanya memberikan penjelasan yang lebih jernih mengenai proses pewahyuan, tetapi juga menawarkan fondasi konstruktif bagi pengembangan penafsiran Al-Qur’an di era modern.</p> Moh. Ikhya Ulumuddin Al Hikam Fadhil Achmad Agus Bahari Copyright (c) 2026 Moh. Ikhya Ulumuddin Al Hikam, Fadhil Achmad Agus Bahari 2026-01-20 2026-01-20 5 1 101 117 10.59001/pjrs.v5i1.726 Tadabbur Al-Qur’an Perspektif Nashir Al-Umar dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam Kontemporer https://www.jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/765 <p><em>This article explores the concept of tadabbur Al-Qur’an from the perspective of Nashir Al-‘Umar and its implications for the development of contemporary Islamic education. The study is motivated by the weakening interaction between Muslims and the Qur’an, which is often limited to recitation (tilawah) and memorization (tahfiz), while the dimensions of deep reflection and inner meaning are frequently neglected. This research aims to explain the essence of tadabbur according to Al-‘Umar, distinguish it from tafsir and other forms of interaction such as ta’wīl and ta’ammul, and outline its relevance for renewing the paradigm of Islamic education. Based on a literature review of Al-‘Umar’s works and classical tafsir references, the study finds that tadabbur is understood as a profound process of contemplating the meanings, wisdoms, and consequences of Qur’anic verses by integrating the functions of the intellect, heart, and action. In the educational context, tadabbur implies an epistemological and pedagogical reorientation from textual-based learning models toward reflective and transformative models that foster spiritual awareness and Qur’anic character. Furthermore, tadabbur serves as a foundation for moral formation, spiritual renewal, and the development of a knowledge-based civilization rooted in revelation.</em></p> <p>Artikel ini membahas konsep <em data-start="42" data-end="52">tadabbur</em> Al-Qur’an dalam perspektif Nashir Al-‘Umar serta implikasinya terhadap pengembangan pendidikan Islam kontemporer. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan melemahnya interaksi umat Islam dengan Al-Qur’an yang sering kali terbatas pada aspek tilawah dan hafalan, sementara dimensi perenungan dan penghayatan maknanya masih terabaikan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hakikat <em data-start="447" data-end="457">tadabbur</em> menurut Al-‘Umar, membedakannya dari tafsir dan bentuk interaksi lain dengan Al-Qur’an seperti <em data-start="553" data-end="561">ta’wīl</em> dan <em data-start="566" data-end="576">ta’ammul</em>, serta menguraikan relevansinya bagi pembaruan paradigma pendidikan Islam. Berdasarkan kajian literatur terhadap karya-karya Al-‘Umar dan referensi tafsir klasik, ditemukan bahwa <em data-start="756" data-end="766">tadabbur</em> dipahami sebagai proses perenungan mendalam terhadap makna, hikmah, dan konsekuensi ayat-ayat Al-Qur’an yang mengintegrasikan fungsi akal, hati, dan amal. Dalam konteks pendidikan, <em data-start="948" data-end="958">tadabbur</em> berimplikasi pada reorientasi epistemologis dan pedagogis dari model pembelajaran tekstual menuju model reflektif dan transformatif yang menumbuhkan kesadaran spiritual serta karakter Qur’ani. Selain itu, <em data-start="1164" data-end="1174">tadabbur</em> juga berfungsi sebagai fondasi pembentukan akhlak, pembaruan ruhani, dan pembangunan peradaban ilmu yang berakar pada wahyu.</p> Wela Maryani Ali Musolli Sohibi Harahap Samsuddin Samsuddin Abdul Jabar Idharudin Copyright (c) 2026 Wela Maryani, Ali Musolli Sohibi Harahap, Samsuddin Samsuddin, Abdul Jabar Idharudin 2026-01-23 2026-01-23 5 1 118 146 10.59001/pjrs.v5i1.765 Implementasi Wathaniyah dalam Mewujudkan Kemandirian Pesantren https://www.jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/799 <p><em>This study aims to analyze the implementation of wathaniyah (religious-based nationalism) in fostering institutional independence at Pesantren Riyadlul Jannah. Departing from the understanding that pesantren serve not only as religious educational institutions but also as socio-national actors, wathaniyah is positioned as a religious value with social and institutional implications. The research employs a qualitative phenomenological approach through in-depth interviews, observation, and documentation, and the data were analyzed using thematic-phenomenological techniques. The findings reveal that wathaniyah functions as both a normative and ideological foundation for pesantren independence. Love of the homeland is understood as part of faith and religious responsibility, manifested in economic autonomy, social welfare commitments, and active contributions to national development. Such independence is not perceived as a purely pragmatic objective but as a means to safeguard the pesantren’s ethical autonomy and freedom of service to society and the state. This study demonstrates that wathaniyah operates as a religious ethic that drives pesantren empowerment. The findings contribute to the fields of religious and social studies by showing how contextualized religious values can serve as normative foundations for strengthening pesantren roles within Indonesian civic life.</em></p> <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi wathaniyah dalam mewujudkan kemandirian kelembagaan di Pesantren Riyadlul Jannah. Berangkat dari asumsi bahwa pesantren merupakan aktor keagamaan sekaligus kebangsaan, penelitian ini memposisikan wathaniyah sebagai nilai keagamaan yang memiliki implikasi sosial dan kelembagaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik-fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wathaniyah berfungsi sebagai landasan normatif dan ideologis bagi pembangunan kemandirian pesantren. Nilai cinta tanah air dipahami sebagai bagian dari iman dan tanggung jawab keagamaan, dan diwujudkan dalam kemandirian ekonomi, komitmen terhadap kesejahteraan sosial, serta kontribusi terhadap pembangunan nasional. Kemandirian dimaknai bukan sekadar tujuan pragmatis, tetapi sebagai cara menjaga otonomi nilai dan kebebasan pengabdian pesantren kepada umat dan bangsa. Studi ini menegaskan bahwa wathaniyah dapat berperan sebagai etika keagamaan yang mendorong kemandirian pesantren. Temuan ini memperkaya kajian agama dan sosial dengan menunjukkan bahwa nilai keagamaan mampu menjadi basis normatif bagi penguatan peran pesantren dalam kehidupan kebangsaan di Indonesia.</p> Budiyono Santoso Copyright (c) 2026 Budioyo Santoso 2026-01-23 2026-01-23 5 1 147 163 10.59001/pjrs.v5i1.799 Melampaui Kritik Isrā’īliyyāt https://www.jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/791 <p data-start="170" data-end="1742"><em data-start="185" data-end="232">Al-Durr al-Manthūr fī al-Tafsīr bi al-Maʾthūr</em>, authored by Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī, is often regarded as a work of <em data-start="301" data-end="323">tafsīr bi al-riwāyah</em> heavily laden with <em data-start="343" data-end="357">Isrāʾīliyyāt</em> reports and weak chains of transmission. Such assessments have led to the assumption that this work lacks sufficient authority to serve as a primary reference in Qur’anic exegesis. Conversely, <em data-start="551" data-end="571">al-Durr al-Manthūr</em> contains significant methodological and epistemological value for understanding the dynamics of Qur’anic interpretation in the formative generations. Accordingly, this study seeks to reassess the methodological potential of the work in relation to the needs of contemporary Qur’anic studies. The central question addressed is to what extent the complexity of <em data-start="931" data-end="951">al-Durr al-Manthūr</em>’s compilation reflects its authoritative value and relevance within modern tafsīr scholarship. This research employs a library-based study with a descriptive-analytical approach to the structure, content, and compositional strategies of the text. The findings demonstrate that al-Suyūṭī deliberately refrained from applying normative selection to the transmitted reports, instead arranging them as an open exegetical archive. This strategy enables intertextual, thematic, and historical readings of the Qur’an that remain rooted in tradition while allowing contextual engagement. The article argues that <em data-start="1556" data-end="1576">al-Durr al-Manthūr</em> should be preserved not only as a legacy of classical Qur’anic exegesis but also as an epistemic foundation for the development of contemporary tafsīr methodologies.</p> <p data-start="170" data-end="1742"><br />Tafsir al-Durr al-Manthūr fī al-Tafsīr bi al-Ma’tsūr karya Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī kerap dianggap sebagai karya tafsir bi al-riwāyah yang sarat dengan riwayat isrā’īliyyāt dan sanad lemah. Penilaian tersebut memunculkan asumsi bahwa karya ini tidak cukup otoritatif untuk dijadikan rujukan utama dalam studi tafsir. Di sisi lain, al-Durr al-Manthūr justru menyimpan nilai metodologis dan epistemologis yang penting dalam membaca dinamika penafsiran Al-Qur’an dari generasi awal. Oleh karena itu, kajian ini menjadi mendesak untuk mengungkap ulang potensi metodologis kitab tersebut dalam kaitannya dengan kebutuhan studi tafsir kontemporer. Penelitian ini mengajukan pertanyaan utama: sejauh mana kompleksitas penyusunan al-Durr al-Manthūr mencerminkan nilai otoritatif dan relevansinya dalam khazanah tafsir modern? Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap struktur, isi, dan strategi penulisan dalam karya tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa al-Suyūṭī secara sadar tidak melakukan seleksi normatif terhadap ragam riwayat, tetapi menyusunnya sebagai arsip tafsir terbuka. Strategi ini memungkinkan pembacaan intertekstual, tematik, dan historis atas Al-Qur’an yang berakar pada tradisi, namun tetap kontekstual. Artikel berargumen bahwa al-Durr al-Manthūr tidak hanya layak dipertahankan sebagai warisan tafsir klasik, tetapi juga sebagai fondasi epistemik bagi pengembangan metodologi tafsir kontemporer.</p> Nasirudien Muhammad Iqbal Copyright (c) 2026 Nasirudien Muhammad Iqbal 2026-01-24 2026-01-24 5 1 164 180 10.59001/pjrs.v5i1.791 Implikasi Tafsir Psikologis Surah Yusuf terhadap Pendidikan Akhlak dan Pengendalian Diri https://www.jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/781 <p><em>The moral and spiritual challenges faced by Muslim students necessitate the strengthening of moral education that is oriented not only toward cognitive development but also toward character formation and self-control. This study examines the implications of the psychological interpretation of Surah Yusuf for moral education and self-control based on Tafsir Al-Azhar by Buya Hamka. The aim of this research is to analyze the psychological and spiritual values embedded in Surah Yusuf, particularly moral integrity, patience, and self-control, as well as their relevance to contemporary Islamic education. This study employs a library research method using a thematic tafsir approach and narrative analysis of Tafsir Al-Azhar. The findings indicate that Buya Hamka’s interpretation of Surah Yusuf emphasizes the importance of self-control, steadfast faith, and honesty as foundational elements of moral education. These values can be integrated into Islamic educational practices to develop students’ character resilience and adaptability in responding to the challenges of modern life.</em></p> <p>Tantangan moral dan spiritual yang dihadapi peserta didik Muslim menuntut penguatan pendidikan akhlak yang tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan pengendalian diri. Penelitian ini mengkaji implikasi tafsir psikologis Surah Yusuf terhadap pendidikan akhlak dan pengendalian diri berdasarkan Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis nilai-nilai psikologis dan spiritual dalam Surah Yusuf, khususnya integritas moral, kesabaran, dan pengendalian diri, serta relevansinya bagi pendidikan Islam kontemporer. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan tafsir tematik dan analisis naratif terhadap Tafsir Al-Azhar. Hasil kajian menunjukkan bahwa tafsir Buya Hamka terhadap Surah Yusuf menekankan pentingnya pengendalian diri, keteguhan iman, dan kejujuran sebagai fondasi pendidikan akhlak. Nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran pendidikan Islam untuk membentuk karakter peserta didik yang kuat dan adaptif terhadap tantangan kehidupan modern.</p> Angga Suryana Copyright (c) 2026 Angga Suryana 2026-01-27 2026-01-27 5 1 181 197 10.59001/pjrs.v5i1.781 Halal Business Education for Non-Muslim MSMEs https://www.jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/802 <p>This study examines the urgency of halal business education for non-Muslim-owned MSMEs as a social mechanism to safeguard Muslim consumer rights within the context of Indonesia’s pluralistic society. Employing a qualitative method based on library research with a critical analysis of contemporary literature on public ethics and economic sociology, this research positions halal business education as a cross-religious social education. This framework allows the majority's religious values to function effectively within the economic sphere without requiring theological internalization from non-Muslim actors. Diverging from previous studies that tend to view halal solely as a regulatory instrument, this study offers a conceptual enrichment by linking halal education to consumer rights protection and social cohesion. The findings indicate that halal business education plays a significant role in reducing resistance among non-Muslim MSMEs and transforming halal from a religious identity symbol into a rational public ethic. This education proves to be a mechanism for reducing the disparity in majority-minority relations by positioning non-Muslim MSMEs as active subjects in market fulfillment. The primary contribution of this research lies in the formulation of an inclusive halal education framework that expands the halal discourse from normative compliance toward an instrument of social integration in a multicultural society.</p> <p><em>Studi ini mengkaji urgensi pendidikan bisnis halal bagi UMKM milik non-Muslim sebagai mekanisme sosial untuk menjamin hak konsumen Muslim dalam konteks masyarakat plural Indonesia. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis kritis terhadap literatur mutakhir mengenai etika publik dan sosiologi ekonomi. Penelitian ini memosisikan pendidikan bisnis halal sebagai edukasi sosial lintas agama yang memungkinkan nilai keagamaan mayoritas hadir secara fungsional dalam ruang ekonomi tanpa menuntut internalisasi teologis dari pelaku non-Muslim. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang cenderung menempatkan halal semata sebagai instrumen regulatif, studi ini menawarkan pengayaan konseptual dengan menautkan pendidikan halal pada isu perlindungan hak konsumen dan kohesi sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan bisnis halal berperan signifikan dalam mereduksi resistensi UMKM non-Muslim dan mentransformasi halal dari simbol identitas menjadi etika publik yang rasional. Pendidikan ini terbukti menjadi mekanisme reduksi ketimpangan relasi mayoritas–minoritas dengan menempatkan UMKM non-Muslim sebagai subjek aktif dalam pemenuhan pasar. Kontribusi utama penelitian ini adalah perumusan kerangka pendidikan halal inklusif yang memperluas diskursus halal dari kepatuhan normatif menuju instrumen integrasi sosial dalam masyarakat multikultural.</em></p> Sugeng Santoso Muhammad Sulthon Zulkarnain Copyright (c) 2026 Sugeng Santoso, Muhammad Sulthon Zulkarnain 2026-01-31 2026-01-31 5 1 198 215 10.59001/pjrs.v5i1.802