NILAI-NILAI SUFISTIK ISLAM NUSANTARA DALAM TERCIPTANYA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA
Tinjauan Nilai Sufistik dalam Tradisi Unduh-Unduh di Mojowarno Jombang
DOI:
https://doi.org/10.59001/pjrs.v2i1.49Kata Kunci:
nilai sufistik, kerukunan beragama, jombangAbstrak
Maraknya pertikaian, terorisme, radikalisme didunia seringkali dikaitkan dengan agama terutama agama Islam. Hal ini berdampak pada seolah ada yang salah dengan agama dan fungsi keberadaannya sebagai sarana yang mampu mendamaikan justru kebalikannya. Kehadiran nilai-nilai dalam nalar sufi ternyata mampu menembus jurang pemisah hal inilah yang menjadikannya sebagai role model untuk membangun peradaban dan perdamaian umat manusia.
Nilai-nilai sufi yang ada seperti sang pencipta/ Tuhan sebagai pusat kehidupan, adanya keikhlasan dan kekhusu’an dalam relasi antar manusia dan relasi dengan Tuhan, terdapat budi pekerti, nalar sufi dibangun atas spiritual bukan logika dan dikontruksi melalui pemahaman agama yang inkusif dan toleran.
Budaya riyaya unduh-unduh yang digagas oleh Jemaat Kristen Jawi Wetan Mojowarno adalah salah satu contoh bahwa didalam agama Nasrani juga terdapat nilai-nilai sufi dalam konteks agama Nasrani tetapi secara esensi sama, dan itu berlangsung sejak dahulu sampai dengan saat ini. Hal ini menandakan bahwa nilai-nilai dalam nalar sufistik layak dijadikan landasan dalam membangun peradaban manusia yang lebih baik.
Unduhan
Referensi
Anam Choirul. 2021. Nilai Kerukunan Sosial Dalam Tradisi Undhuhundhuh Di Gereja Kristen Jawi Wetan (Gkjw) Mojowarno Jombang Jawa Timur.
Ahmad Sahal, “Prolog: Kenapa Islam Nusantara”, dalam Akhmad Sahal (ed.), Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan, (Bandung: Mizan, 2015)
Ali Harb, Kritik Kebenaran, terj. Sunarwoto Dema (Yogyakarta: LKiS, 1995)
Azyumardi Azra . 2015. sebutan Islam Nusantara sebagai Islam distingtif, “Islam Nusantara: Islam Indonesia,” dalam Koran Republika, 25 Juni 2015. Konsepnya dipublikasikan melalui website Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah, lihat http://fah.uinjkt.ac.id/islam-nusantara-adalah-kita/, diakes pada tanggal 20 Pebruari 2018
Fazlur Rahman, Tema Pokok al-Qur’an, cetakan ke-2 (Bandung: Pustaka, 1996) Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Dian Rakyat, 1974) Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, (Bandung: Mizan, 1999)
Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam, terj. (Jakarta: Paramadina, 2002) www.baranews.co/web/read/660/tekad.jawa.timur.pertahankan.sejarah. Diakses pada Tanggal 12 Desember 2022
Mohammad Damami, Makna Agama dalam Masyarakat Jawa. (Yogyakarta Indonesia: LESTI,2002)
M. Abed al-Jabiri, Bunyat al-Aql al-‘Arabi (Beirut: al-Markaz ats-Tsaqafi al-„Arabi,1993) Murtadho Muthahhari, Fundamental of Islamic Thought (Bandung:Mizan Press, 1985)
Muhammad Tholhah Hasan, Ahlussunnah Wal-Jamaah: dalam Persepsi dan TradisiNU. Cetakan ke-6 (Jakarta: Lantabora Press, 2015)
Mujamil Qomar. “Islam Nusantara” : Sebuah Alternatif Model Pemikiran, PEmahaman dan PEngamalan Islam”, dalam el Harakah Vo.17 No.2 Tahun 2015. Dikutip pada tanggal 18 Februari 2018 dari http://islamnusantara.com/ketum-pbnu-aqil- siradj-empat pilar-islam-nusantara/
Nur Syam, Islam Pesisir (Yogyakarta: LKiS, 2005), hlm. 63-65. Pendapat al-Attas bisa dilihat di Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur : International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC), 1993), hlm. 173. Pendapat Azra bisa dilihatdi Azyumardi Azra, Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara (Bandung: Mizan, 2002)
Sauqi Futani, Nalar Sufustik Islam Nusantara Dalam Membangun Perdamaian….Unisda Lamongan.
Robert Frager, Psikologi Sufi untuk Transformasi Hati, Jiwa dan Ruh, terj. Hasmiyah Rauf (Jakarta: Penerbit Zaman, 2014)
Trisno S. Sutanto “Di Seberang Dewi Sri Dan Kristus Dapatkah Lokalitas Berbicara?” dalam Ahmad Baso, Plesetan Lokalitas Politik Pribumisasi Islam, (Jakarta selatan: Desantara, 2002)

